Inovasi “Mudik ke Jakarta” untuk Menggerakkan Pariwisata dan Ekonomi Ibu Kota
Program “Mudik ke Jakarta” yang digagas oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dinilai memiliki potensi besar dalam menggerakkan kembali aktivitas pariwisata dan ekonomi Ibu Kota selama masa libur Lebaran. Program ini mencoba membalikkan logika tradisi mudik yang biasanya identik dengan keluarnya warga dari Jakarta, dengan mengajak perantau yang sukses di kampung halaman untuk kembali berwisata ke Jakarta.
Pendekatan Baru dalam Tradisi Mudik
Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Dwi Rio Sambodo menilai program tersebut sebagai inovasi yang menarik dan berani. Menurutnya, pendekatan ini berpotensi memperkuat sektor pariwisata dan perdagangan, khususnya dengan menyasar keluarga perantau yang memiliki kedekatan emosional dengan Jakarta. Target pasarnya adalah keluarga perantau yang memiliki memori emosional dengan Jakarta, yang bisa diajak berkunjung ke mal, hotel, atau tempat wisata baru yang mungkin belum ada saat mereka tinggal dulu.
Namun, Rio menegaskan bahwa efektivitas program sangat bergantung pada promosi dan kemasan paket wisatanya. Jangan sampai hanya menjadi jargon tanpa eksekusi yang menarik. Oleh karena itu, komisi terus berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) serta pelaku usaha untuk memastikan program ini memiliki target ekonomi yang terukur.
Indikator Kinerja yang Jelas
Rio juga menambahkan bahwa DPRD mendorong agar program ini dilengkapi indikator kinerja yang jelas, sehingga dampak ekonominya dapat terukur secara konkret. Indikator kinerja seperti target kenaikan okupansi hotel, peningkatan transaksi di pusat perbelanjaan, serta jumlah wisatawan yang masuk akan menjadi parameter penting dalam mengevaluasi keberhasilan program ini.
Selain itu, Rio melihat rencana pemberian diskon besar selama periode Lebaran sebagai langkah positif untuk menarik minat wisatawan berkunjung ke Jakarta. Diskon hingga 80 persen tentu menjadi daya tarik yang kuat, terutama bagi wisatawan yang ingin berbelanja.
Kolaborasi antara Pelaku Usaha
Untuk memperluas dampak ekonomi, Rio mendorong kolaborasi antara pengelola mal, hotel, transportasi, dan destinasi wisata sehingga paket wisata yang ditawarkan menjadi lebih terpadu. Ia juga berharap potensi wisata lokal seperti kampung tematik, kawasan heritage, dan sentra UMKM turut dilibatkan dalam program tersebut, sehingga manfaat ekonominya dapat dirasakan oleh lebih banyak masyarakat.
Paket wisata bernuansa nostalgia juga dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi para perantau yang pernah tinggal di Jakarta. Pemprov perlu secara aktif mengemas paket wisata yang membawa pengunjung untuk bernostalgia ke kampung-kampung kota. Misalnya, menikmati kuliner legendaris di kawasan yang tertata rapi, berbelanja oleh-oleh khas Betawi dari sentra industri rumahan, atau menyusuri kampung kreatif.
Kesiapan Kota untuk Kenyamanan Wisatawan
Kesiapan kota juga menjadi faktor penting untuk mendukung kenyamanan wisatawan selama masa libur Lebaran. Jangan lupa menjaga kebersihan, keamanan, dan kelancaran transportasi selama Lebaran, karena itu adalah modal utama pariwisata. Rio berharap program tersebut tidak hanya menarik wisatawan dari luar kota, tetapi juga memberikan manfaat bagi warga Jakarta yang tetap berada di ibu kota saat Lebaran.
Agenda Hiburan dan Diskon Besar
DIketahui, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meluncurkan program “Mudik ke Jakarta” pada Ramadan 2026 dengan tagline “Jakarta Lengang, Liburan dan Belanja Senang, Cuan Datang.” Program ini menghadirkan diskon mal hingga 80 persen serta berbagai agenda hiburan selama musim mudik.
Beberapa pusat perbelanjaan di Jakarta akan memberikan diskon besar selama Ramadan. Diskon yang ditawarkan bahkan mencapai hingga 80 persen. Selain program belanja, Pemprov DKI juga menyiapkan sejumlah kegiatan hiburan untuk masyarakat. Pada 12 Maret akan digelar Hijab Fashion Show di Tanah Abang, kemudian pada 19 Maret akan berlangsung Festival Bedug pada malam hari yang dilanjutkan dengan Pawai Obor.
Pramono juga menyetujui pelaksanaan Car Free Night pada malam kegiatan tersebut. Kebijakan ini akan dimulai pukul 22.00 WIB, di mana kendaraan pribadi tidak diperbolehkan melintas di lokasi kegiatan, namun layanan TransJakarta tetap beroperasi untuk mendukung mobilitas masyarakat.






