Tragedi Minab Tewaskan 175 Siswi SD, Kedubes Iran Minta Dunia Bertindak

Tragedi Minab Tewaskan 175 Siswi SD, Kedubes Iran Minta Dunia Bertindak

Kedutaan Besar Iran Mengungkap Tragedi Mengerikan di Sekolah Dasar di Minab

Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta menyampaikan duka yang mendalam atas tragedi mengerikan yang menimpa ratusan anak sekolah di wilayah selatan Iran. Serangan yang menghantam sebuah sekolah dasar khusus perempuan di kota Minab disebut telah menewaskan sedikitnya 175 siswi dan melukai puluhan lainnya. Peristiwa ini menjadi salah satu serangan paling mematikan terhadap warga sipil dalam konflik yang sedang berlangsung.

Dalam pernyataan resminya, Kedutaan Besar Iran menjelaskan bahwa korban adalah siswi yang saat itu sedang mengikuti kegiatan belajar di kelas. Mereka menjadi korban dari serangan rudal yang terjadi di tengah meningkatnya ketegangan konflik di kawasan tersebut. Menurut pernyataan tersebut, serangan yang menghantam sekolah bernama Shajareh Tayyebeh disebut dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.

Kedutaan Besar Iran menilai tindakan tersebut tidak hanya melanggar hati nurani kemanusiaan, tetapi juga bertentangan dengan prinsip hukum internasional yang melindungi warga sipil. Serangan terhadap sekolah dasar yang dipenuhi anak-anak dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional. Kedubes Iran menegaskan bahwa fasilitas pendidikan dan anak-anak seharusnya dilindungi dari serangan militer dalam situasi konflik bersenjata.

“Penargetan sebuah sekolah dan pembunuhan anak-anak tak berdaya merupakan pelanggaran nyata terhadap prinsip-prinsip dasar hukum humaniter internasional,” tulis pernyataan Kedutaan Besar Iran di Jakarta, Sabtu (14/3/2026).

Tragedi tersebut terjadi pada 28 Februari 2026 ketika sebuah serangan rudal menghantam bangunan sekolah di Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan. Atap bangunan sekolah dilaporkan runtuh dan menimpa ruang kelas saat para siswi sedang belajar. Insiden itu menjadi salah satu serangan paling mematikan terhadap warga sipil dalam konflik yang sedang berlangsung.

Otoritas Iran menyebut korban tewas sebagian besar merupakan siswi berusia antara 7 hingga 12 tahun. Selain korban meninggal, sedikitnya 95 orang dilaporkan mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.

Tindakan yang Dianggap Melanggar Prinsip Diplomasi

Dalam pernyataannya, Kedubes Iran juga menilai serangan tersebut terjadi pada saat Iran sedang menempuh jalur diplomasi dan dialog untuk mencari solusi damai atas konflik yang berkembang di kawasan. Menurut mereka, serangan terhadap wilayah sipil di tengah proses diplomasi merupakan pukulan terhadap prinsip penyelesaian damai sengketa dalam sistem internasional.

Kedutaan Besar Iran pun menyerukan kepada masyarakat internasional, organisasi kemanusiaan, lembaga hak asasi manusia, serta organisasi perlindungan anak agar tidak berdiam diri terhadap tragedi tersebut. Mereka berharap aksi solidaritas dapat memberikan dukungan moral bagi keluarga korban dan mendorong upaya bersama untuk melindungi anak-anak dan warga sipil dari dampak konflik bersenjata di berbagai belahan dunia.

Acara Doa Bersama untuk Mengenang Korban

Sebagai bentuk solidaritas, Kedutaan Besar Iran di Jakarta juga menggelar acara doa bersama pada Sabtu (14/3/2026) untuk mengenang para korban. Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah anak-anak Indonesia yang ikut mendoakan para siswi yang meninggal dalam tragedi tersebut. Kehadiran anak-anak Indonesia dalam acara ini menjadi simbol solidaritas kemanusiaan dan pesan yang jelas tentang empati bangsa-bangsa terhadap para korban yang tidak bersalah.

Kedutaan Besar Iran berharap peristiwa tragis tersebut dapat menggugah hati nurani dunia agar tragedi serupa tidak kembali terulang, serta mendorong upaya bersama untuk melindungi anak-anak dan warga sipil dari dampak konflik bersenjata di berbagai belahan dunia.

Related posts