Cuaca Panas Jakarta Dipengaruhi Peralihan Musim Kemarau
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, Isnawa Adji menyatakan bahwa cuaca panas yang terjadi di Jakarta dalam beberapa hari terakhir disebabkan oleh peralihan musim menuju kemarau. Ia menjelaskan bahwa Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memberikan peringatan bahwa Jakarta akan memasuki musim kemarau.
“BMKG sudah mengingatkan bahwa kita akan masuk musim kemarau,” ujar Isnawa saat dihubungi LiputanJakarta, Sabtu (14/3/2026).
Menurutnya, pihak BPBD telah mempersiapkan berbagai antisipasi terhadap potensi bencana yang mungkin terjadi selama musim kemarau. Beberapa ancaman yang diperhatikan adalah kebakaran dan kekeringan. Untuk itu, BPBD bekerja sama dengan PAM Jaya dalam menyediakan truk tangki air serta distribusi air bersih.
“Musim kemarau ditandai dengan potensi kekeringan dan kebakaran, hal ini harus diantisipasi,” katanya.
Selain itu, BPBD juga telah menyiapkan kesiapan truk tangki air bersama dengan berbagai instansi seperti PMI, Dinsos, dan lainnya.
Isnawa mengimbau warga Jakarta untuk tidak membakar sampah guna mencegah risiko kebakaran. Selain itu, pengurus RT dan RW diminta untuk aktif memantau kondisi lingkungan sekitarnya.
“Musim kemarau harus dijaga agar tidak membakar sampah dan material lain yang berdampak negatif. RT dan RW perlu melakukan pemantauan lingkungan serta mengawasi penggunaan listrik,” imbaunya.
Prediksi Musim Kemarau oleh BMKG
BMKG telah merilis prediksi mengenai musim kemarau pada Selasa (10/3/2026). La Nina Lemah yang berlangsung sejak Oktober 2025 telah berakhir pada Februari 2026.
Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi akan memasuki musim kemarau pada periode April (114 ZOM; 16,3 persen), Mei (184 ZOM; 26,3 persen), dan Juni 2026 (163 ZOM; 23,3 persen). Perubahan musim ini dimulai dari wilayah Nusa Tenggara dan secara bertahap meluas ke wilayah Indonesia lainnya.
Awal musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi datang lebih awal atau MAJU (325 ZOM; 46,5 persen) dan SAMA dengan normalnya (173 ZOM; 23,7 persen).
Akumulasi curah hujan pada periode musim kemarau di sebagian besar Indonesia (451 ZOM; 64,5 persen) diprediksi berada dalam kategori BAWAH NORMAL atau lebih kering dari biasanya.
Sebagian besar wilayah Indonesia (429 ZOM; 61,4 persen) diprediksi mengalami puncak kemarau pada bulan Agustus 2026. Puncak musim kemarau di Indonesia sebagian besar diprediksi terjadi lebih awal atau MAJU (410 ZOM; 58,7 persen) dan SAMA dengan normalnya (142 ZOM; 20,3 persen).
Selain itu, sebagian besar wilayah Indonesia (400 ZOM; 57,2 persen) diprediksi mengalami musim kemarau yang LEBIH PANJANG dari normalnya.
Langkah Antisipasi BPBD DKI Jakarta
Dalam rangka menghadapi musim kemarau, BPBD DKI Jakarta telah mengambil berbagai langkah antisipasi. Salah satunya adalah kerja sama dengan berbagai pihak seperti PAM Jaya, PMI, dan Dinsos untuk memastikan ketersediaan air bersih. Truk tangki air juga disiapkan untuk mendistribusikan air ke wilayah-wilayah yang membutuhkan.
Selain itu, BPBD juga memperkuat koordinasi dengan pengurus RT dan RW untuk meningkatkan pengawasan lingkungan. Hal ini dilakukan agar potensi kebakaran dapat diminimalisir, terutama karena cuaca panas yang terjadi.
Isnawa Adji menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan. Ia mengimbau warga untuk tidak membakar sampah atau bahan-bahan lain yang bisa memicu kebakaran. Dengan demikian, masyarakat bisa turut serta dalam mencegah bencana yang mungkin terjadi selama musim kemarau.






