Pelaku UMKM Kuliner di Bandung Bergabung dalam Asosiasi dan Koperasi Food Bank
Sebanyak 350 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kuliner di Kota Bandung kini resmi bergabung dalam asosiasi dan koperasi program Food Bank yang diinisiasi oleh DPW PKB Jawa Barat. Program ini awalnya berupa gerakan sosial untuk membeli produk UMKM, kini telah memasuki tahap pelembagaan agar pelaku usaha memiliki kekuatan bersama dalam meningkatkan kualitas dan daya saing.
Melalui wadah koperasi dan asosiasi, para pelaku UMKM akan mendapatkan pendampingan profesional, termasuk pelatihan higienitas, peningkatan cita rasa, dan perbaikan kemasan produk. Langkah ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas usaha sekaligus memperluas jangkauan pasar.
Fase Pelembagaan Program Food Bank
Program Food Bank kini masuk pada fase pelembagaan setelah sebelumnya hanya sebatas gerakan pembelian produk UMKM untuk kegiatan sosial. Kini, para pemilik warung dihimpun dalam satu wadah agar memiliki kekuatan bersama dalam meningkatkan kualitas produk dan daya saing usaha.
Ketua DPW PKB Jawa Barat, Syaiful Huda, menjelaskan bahwa program Food Bank yang dirintis sejak dua pekan lalu mulai difokuskan pada penguatan kelembagaan melalui pembentukan asosiasi dan koperasi pelaku UMKM kuliner. Menurutnya, wadah tersebut penting agar para pelaku usaha kecil tidak lagi bergerak sendiri, tetapi bisa saling mengenal, berkolaborasi, dan meningkatkan kualitas produk secara bersama.
“Alhamdulillah, program Food Bank kini masuk level pelembagaan. Para pemilik warung sepakat mendirikan asosiasi dan koperasi. Dengan begitu mereka bisa saling kenal dan berkolaborasi meningkatkan kualitas produk,” ujar Huda.
Pendampingan Profesional untuk Pelaku UMKM
Melalui wadah tersebut, tim Food Bank Jawa Barat juga menyiapkan berbagai program pendampingan untuk para pelaku UMKM kuliner. Salah satunya adalah dengan menghadirkan tenaga profesional untuk memberikan pelatihan kepada para pemilik warung, mulai dari peningkatan standar higienitas, penguatan cita rasa masakan, hingga perbaikan kemasan produk.
Huda menyebut, pelatihan tersebut dirancang agar produk kuliner para pelaku UMKM tidak hanya layak dijual di lingkungan sekitar, tetapi juga mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
“Kami akan adakan coaching dengan mendatangkan chef. Tujuannya agar mereka belajar meningkatkan higienitas, rasa masakan, hingga perbaikan kemasan. Jadi produknya makin berkualitas,” katanya.
Peningkatan Penjualan dan Pasar yang Lebih Luas
Setelah kualitas produk meningkat, para pelaku UMKM yang tergabung dalam asosiasi dan koperasi ini diharapkan tidak lagi hanya mengandalkan penjualan di lingkungan sekitar atau menunggu pembeli datang ke warung. Mereka didorong untuk mulai menyasar pasar yang lebih besar, seperti penyediaan konsumsi rapat anggota dewan, katering kegiatan pemerintah daerah, kerja sama dengan perusahaan, hingga berbagai kegiatan berskala besar lainnya.
“Kami ingin asosiasi dan koperasi ini bisa menaikkan kualitas sekaligus mendongkrak penjualan mereka ke level menengah,” katanya.
Perluasan Program Food Bank di Jawa Barat
Pada tahap awal, program ini telah menghimpun sekitar 350 pelaku UMKM kuliner di Kota Bandung sebagai pionir. Namun, gerakan Food Bank tersebut dipastikan akan diperluas ke seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat. Seluruh anggota dewan dari PKB serta struktur DPC di daerah, kata dia, diminta menjalankan program serupa di wilayah masing-masing.
“Sekitar 350 di Kota Bandung. Sebenarnya program ini juga ada di seluruh kabupaten kota, karena semua anggota dewan PKB dan struktur DPC harus melaksanakan Food Bank di daerahnya masing-masing,” katanya.






