Amerika Serikat dikabarkan sedang mempertimbangkan operasi militer darat untuk merebut Pulau Kharg di Iran, yang merupakan pusat ekspor minyak utama negara tersebut. Informasi ini muncul setelah percepatan pengerahan pasukan ke kawasan, seperti dilaporkan oleh harian The Jerusalem Post.
Menurut laporan tersebut, pejabat senior AS memberi tahu Israel dan negara-negara lain bahwa Washington mungkin tidak punya pilihan selain melancarkan operasi darat untuk menguasai pulau tersebut. Seorang pejabat AS juga menyampaikan kepada surat kabar tersebut bahwa militer AS telah mempercepat pengerahan ribuan Marinir dan personel Angkatan Laut ke Timur Tengah sebagai bagian dari persiapan untuk operasi potensial.
Beberapa bala bantuan yang dikerahkan termasuk Gugus Siap Amfibi USS Boxer, kapal transportasi amfibi USS Portland, dan USS Comstock. Diperkirakan pengerahan ini melibatkan sekitar 4.500 Marinir dan pasukan tempur tambahan, yang menimbulkan spekulasi tentang kemungkinan operasi pendaratan di pulau tersebut.
Pulau Kharg, yang terletak di Teluk Persia, merupakan tulang punggung ekonomi vital Iran dan pusat ekspor minyak utama. Pulau ini memproses sekitar 90 persen pengiriman minyak mentah Iran, yang sering kali ditujukan ke Cina.
Laporan tersebut menambahkan bahwa diskusi baru-baru ini telah berlangsung di dalam pemerintahan AS tentang kemungkinan merebut pulau tersebut untuk menekan Iran agar berhenti mengganggu lalu lintas maritim melalui Selat Hormuz.
Sejak awal Maret, Iran secara efektif menutup Selat Hormuz bagi sebagian besar kapal. Rute transit minyak utama ini biasanya menangani sekitar 20 juta barel minyak per hari dan sekitar 20 persen perdagangan gas alam cair global. Penutupan ini telah meningkatkan biaya pengiriman dan asuransi, mendorong harga minyak lebih tinggi, serta menimbulkan kekhawatiran ekonomi global.
Sebelumnya, laporan Axios pada 20 Maret menyebutkan bahwa Presiden AS Donald Trump siap mengambil alih Pulau Kharg guna menekan Teheran agar membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz. Sementara pada 22 Maret, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan semua opsi masih terbuka dan tidak menutup kemungkinan mengirim pasukan ke pulau tersebut.
Seperti diketahui, AS dan Israel pada 28 Februari melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.






