Banyak Money Changer Nakal, Satpol PP Gianyar Bali Bekerja Sama dengan Bank Indonesia

Banyak Money Changer Nakal, Satpol PP Gianyar Bali Bekerja Sama dengan Bank Indonesia

Money Changer Nakal di Gianyar, Ancaman terhadap Citra Pariwisata Bali

Sebagai salah satu pusat pariwisata internasional, Kabupaten Gianyar menarik banyak pemodal untuk berinvestasi atau membuka usaha jasa. Salah satunya adalah money changer (MC), yang menyediakan layanan penukaran uang asing ke rupiah. Namun, tak sedikit dari usaha ini berperilaku kriminal dengan membohongi wisatawan.

Praktik penipuan yang dilakukan oleh money changer ini sangat merugikan wisatawan. Mereka menggunakan cara licik untuk mengurangi jumlah uang yang ditukarkan. Praktik ini telah sering terjadi di wilayah Ubud, Gianyar, Bali. Terbaru, kasus serupa kembali muncul di Kecamatan Tegalalang, tepatnya di sebelah utara Pasar Tradisional Tegalalang.

Dalam unggahan yang viral di media sosial, seorang guide yang mendampingi turisnya mengungkapkan bahwa dirinya dan turisnya telah berkali-kali menjadi korban penipuan di tempat tersebut. Dengan nada suara sabar, ia meminta agar oknum pegawai MC tidak mengulangi perbuatan tersebut dan mengembalikan uang turisnya.

“Jangan seperti itu (menipu), ini yang membuat jelek Bali. Kembalikan uangnya,” ujar pria yang tidak diketahui identitasnya.

Karena terpojok, petugas MC tersebut akhirnya meminta maaf dan bersedia mengembalikan uang turis asing tersebut.

Penindakan yang Dilakukan oleh Pemerintah Daerah

Kepala Dinas Satpol PP dan Pemadam Kebakaran Gianyar, I Putu Yudanegara, saat dikonfirmasi tidak menampik bahwa money changer nakal marak di Kabupaten Gianyar. Beberapa kali pihaknya melakukan sidak, tetapi saat didatangi, money changer tersebut selalu tutup.

“Selalu ketika kita datangi, pasti tutup,” ujarnya.

Untuk menindaklanjuti masalah ini, pihaknya telah berkoordinasi dengan Bank Indonesia sebagai lembaga resmi yang mengeluarkan izin operasional usaha money changer. Menurut Yudanegara, pemerintah daerah hanya berwenang menindaklanjuti izin dasar seperti NIB, PKKPR, PBG SLF, dan perizinan berusaha.

“Izin operasional MC itu diterbitkan Bank Indonesia (BI). Kami sudah koordinasi dengan BI, hari Senin usai libur lebaran kami akan bertemu dengan pihak BI untuk menindaklanjuti maraknya praktik money changer nakal yang mencoreng citra pariwisata Bali,” ujarnya.

Perlu Kolaborasi Antar Instansi

Yudanegara menegaskan bahwa dalam mengatasi persoalan ini diperlukan kerja sama lintas instansi. Hal ini penting untuk memastikan pengawasan yang lebih ketat terhadap usaha money changer.

“Hal ini perlu koordinasi antar instansi,” ujarnya.

Tantangan dalam Pengawasan

Meski pemerintah daerah telah melakukan langkah-langkah tegas, tantangan tetap ada. Banyak money changer nakal yang sengaja menutup usahanya saat ada inspeksi. Hal ini menunjukkan bahwa mereka memiliki strategi tersendiri untuk menghindari pengawasan.

Pihak terkait juga harus terus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang cara mengenali money changer yang sah dan tidak. Wisatawan juga perlu lebih waspada dan memilih tempat penukaran uang yang terpercaya.

Langkah Lanjutan

Dalam waktu dekat, pihak pemerintah daerah akan melakukan pertemuan dengan Bank Indonesia untuk menindaklanjuti maraknya praktik money changer nakal. Tujuannya adalah untuk memberikan solusi yang lebih efektif dalam mengatasi masalah ini.

Dengan kolaborasi yang baik antar instansi dan kesadaran masyarakat yang tinggi, diharapkan praktik penipuan oleh money changer dapat diminimalisir dan citra pariwisata Bali tetap terjaga.


Related posts