Warung Sinanggel, Tempat Nostalgia Kuliner Tradisional Singkil
Di tengah ramainya aktivitas masyarakat Aceh Singkil selama bulan Ramadhan, Warung Sinanggel menjadi salah satu tempat yang sangat diminati. Berlokasi di Desa Gunung Lagan, warung ini tidak hanya menyediakan hidangan lezat tetapi juga menjadi ruang nostalgia bagi warga yang ingin merasakan kembali kelezatan kuliner tradisional Singkil.
Salah satu menu andalan yang sering disajikan adalah ndelabakh manuk, yaitu ayam bakar dengan bumbu yang terdiri dari sangrai parut kelapa, cabai giling, garam, dan jeruk peras. Kata “ndelabakh” dalam bahasa Singkil mengacu pada proses pencampuran bumbu mentah dan sangrai kelapa parut dengan ayam yang dibakar. Proses ini memberikan rasa yang khas dan unik, sehingga membuat hidangan ini menjadi favorit banyak orang.
Selain ndelabakh manuk, pengunjung juga dapat menikmati berbagai jenis ikan seperti ikan karang, ikan kakap, dan ikan kerapu dengan bumbu gulapas sambal matah. Sambal matah sendiri merupakan sambal mentah yang pedas, sehingga memberikan sensasi rasa yang tajam dan segar. Rasa pedas ini membuat para penggemar makanan pedas tidak akan kecewa saat mencoba hidangan tersebut.
Warung Sinanggel dikelola oleh Wanhar Lingga, seorang pegiat literasi dan budaya yang juga menjabat sebagai Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesian Kabupaten Aceh Singkil. Ia menjelaskan bahwa selain menjadi tempat makan dan ngopi, warung ini juga menjadi ruang untuk bernostalgia. Bagi masyarakat yang ingin merasakan makanan tradisional Singkil, Warung Sinanggel menjadi pilihan utama.
Tidak heran jika setiap tahun, khususnya selama bulan Ramadhan, Warung Sinanggel selalu ramai dikunjungi oleh para pecinta kuliner. Pengunjung biasanya datang secara berkelompok, memesan menu favorit seperti ndelabakh manuk dan ikan karang, lalu menikmati minuman tradisional seperti godekh sagu. Godekh sagu adalah minuman penutup yang memiliki rasa khas dan cocok dinikmati setelah menyantap hidangan utama.
Harga yang ditawarkan untuk satu porsi ndelabakh manuk bakar adalah Rp 32 ribu, yang sudah termasuk nasi dan teh dingin. Sedangkan untuk ikan gulapas sambal matah, harga bervariasi antara Rp 150 ribu hingga Rp 250 ribu per kilogram. Meskipun harganya cukup tinggi, namun kualitas dan cita rasa yang diberikan membuat para pengunjung merasa puas.
Tradisi berbuka puasa dengan makanan warisan para raja Singkil di Warung Sinanggel telah menjadi kebiasaan yang dilakukan setiap tahun. Tahun ini, suasana di warung tersebut terlihat lebih ramai sejak awal Ramadhan, dengan pengunjung yang datang menjelang waktu berbuka. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat masih sangat menghargai dan mempertahankan budaya kuliner tradisional mereka.
Selain itu, suasana kekeluargaan dan nuansa nostalgia yang terasa di Warung Sinanggel membuat tempat ini selalu dirindukan. Banyak pengunjung yang mengatakan bahwa berkunjung ke warung ini seperti kembali ke masa lalu, ketika makanan tradisional masih menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari.
Jika Anda ingin merasakan sensasi berbeda saat berbuka puasa, jangan ragu untuk datang ke Warung Sinanggel. Di sini, Anda tidak hanya akan menikmati hidangan lezat tetapi juga merasakan kehangatan dan kekayaan budaya yang terasa nyata.






