DPRD DKI Jakarta Dorong Penguatan Fasilitas Pengolahan Sampah Berbasis RDF
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta, Khoirudin, mengungkapkan pentingnya penguatan fasilitas pengolahan sampah berbasis Refuse Derived Fuel (RDF) sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan Jakarta terhadap Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPST) Bantargebang. Menurutnya, kelebihan kapasitas TPST Bantargebang telah menjadi permasalahan serius yang memerlukan solusi jangka panjang.
Jakarta setiap hari menghasilkan sekitar 8.700 ton sampah. Jika tidak disiapkan solusi permanen, risiko seperti longsor di Bantargebang bisa terus terjadi. Oleh karena itu, Khoirudin menekankan perlunya sistem pengelolaan sampah yang lebih modern, aman, dan berkelanjutan.
Pemerintah daerah telah menganggarkan dana hingga triliunan rupiah untuk pembangunan fasilitas RDF. Tujuannya adalah untuk memastikan pengelolaan sampah Jakarta berjalan lebih efektif sekaligus ramah lingkungan.
RDF sebagai Solusi Jangka Panjang
Fasilitas RDF merupakan bagian dari transformasi pengelolaan sampah Jakarta yang selama ini masih bertumpu pada TPST Bantargebang. Melalui teknologi RDF, sampah diolah menjadi bahan bakar alternatif yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan industri. Dengan cara ini, volume sampah yang dikirim ke tempat pembuangan akhir dapat ditekan secara signifikan.
Salah satu fasilitas yang sudah berjalan adalah RDF Rorotan, yang saat ini beroperasi secara bertahap dengan kapasitas pengolahan sekitar 700 ton sampah per hari. Ke depan, pemerintah menargetkan kapasitas tersebut dapat meningkat hingga 2.500 ton per hari setelah seluruh sistem operasional berjalan optimal.
“Fasilitas RDF seperti di Rorotan ini merupakan bagian dari solusi jangka panjang. Jika fasilitas serupa dibangun di beberapa titik, kita bisa mengurangi beban sampah ke Bantargebang hingga sekitar 30 persen,” jelas Khoirudin.
Peran Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah
Selain pembangunan infrastruktur pengolahan sampah, DPRD DKI juga menekankan pentingnya peran masyarakat dalam menyelesaikan persoalan sampah di ibu kota. Khoirudin menilai keberhasilan sistem pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada kesadaran masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah.
“Masalah sampah adalah tanggung jawab bersama. Saya mengajak seluruh warga Jakarta untuk mulai memilah sampah dari rumah,” katanya.
Menurutnya, pengelolaan sampah yang baik di tingkat rumah tangga akan sangat menentukan keberhasilan sistem pengolahan di hilir. Dengan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, Jakarta diharapkan dapat membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan di masa depan.
Strategi Pengelolaan Sampah yang Berkelanjutan
Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah daerah sedang mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan sampah berbasis RDF di berbagai wilayah. Selain RDF Rorotan, rencana pembangunan fasilitas serupa juga sedang dipersiapkan di lokasi lain agar distribusi beban sampah lebih merata.
Beberapa keuntungan dari penggunaan teknologi RDF antara lain:
- Mengurangi jumlah sampah yang harus dibuang ke TPST
- Menghasilkan bahan bakar alternatif yang dapat digunakan oleh industri
- Meningkatkan efisiensi pengelolaan sampah secara keseluruhan
Dengan pengembangan fasilitas ini, diharapkan dapat membantu mengurangi tekanan terhadap TPST Bantargebang serta memitigasi risiko kerusakan lingkungan akibat penumpukan sampah.
Tantangan dan Langkah Lanjutan
Meski ada progres positif, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah koordinasi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan pelaku industri dalam memanfaatkan hasil olahan RDF. Selain itu, perlu adanya pendidikan dan sosialisasi yang lebih luas agar masyarakat lebih memahami pentingnya pemilahan sampah sejak awal.
Pemerintah DKI Jakarta juga berkomitmen untuk terus memperbaiki sistem pengelolaan sampah, termasuk melalui inovasi teknologi dan kebijakan yang mendukung pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.
Dengan komitmen dan kolaborasi yang kuat, diharapkan Jakarta dapat menjadi contoh dalam pengelolaan sampah yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.






