Sosok Andrie Yunus, Aktivis HAM yang Jadi Korban Penyiraman Air Keras di Jakarta

Sosok Andrie Yunus, Aktivis HAM yang Jadi Korban Penyiraman Air Keras di Jakarta

Peristiwa Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis HAM Andrie Yunus

Seorang aktivis hak asasi manusia (HAM) bernama Andrie Yunus menjadi perhatian publik setelah mengalami penyiraman air keras oleh orang tak dikenal di kawasan Salemba, Jakarta Pusat. Kejadian ini terjadi pada Kamis malam (12/3/2026) sekitar pukul 23.37 WIB saat Andrie sedang dalam perjalanan pulang menggunakan sepeda motor.

Andrie Yunus menjabat sebagai Wakil Koordinator Bidang Eksternal di Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS). Sebelum kejadian, ia baru saja menjadi narasumber dalam sebuah podcast yang diselenggarakan oleh Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Topik yang dibahas dalam podcast tersebut adalah “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia”, yang membahas isu-isu penting terkait demokrasi dan peran militer dalam kehidupan sipil.

Serangan Terjadi Saat Pulang dari Podcast

Serangan terhadap Andrie Yunus terjadi ketika ia melintas di Jalan Salemba I – Talang, Jakarta Pusat. Dua orang tak dikenal yang mengendarai sepeda motor mendekatinya dari arah berlawanan. Mereka diduga menggunakan motor matic jenis Honda Beat produksi sekitar tahun 2016 hingga 2021.

Saat berpapasan, salah satu pelaku langsung menyiramkan cairan yang diduga air keras ke arah korban. Akibat serangan tersebut, Andrie mengalami luka serius di sejumlah bagian tubuh, termasuk tangan kanan dan kiri, wajah, dada, serta mata. Ia kemudian segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis darurat. Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, korban mengalami luka bakar sekitar 24 persen di tubuhnya.

Diduga Upaya Membungkam Aktivis HAM

Pihak KontraS menilai bahwa serangan terhadap Andrie Yunus tidak bisa dipandang sebagai tindakan kriminal biasa. Menurut Dimas Bagus Arya, Koordinator KontraS, peristiwa tersebut diduga merupakan bentuk intimidasi terhadap aktivis yang aktif menyuarakan isu HAM di Indonesia.

Dimas menilai bahwa serangan tersebut terjadi tidak lama setelah Andrie menjalankan aktivitas advokasinya sebagai pembela HAM, termasuk dalam diskusi publik terkait isu militerisme dan demokrasi. “Atas informasi yang kami himpun, kami menilai bahwa tindakan penyiraman air keras ini merupakan upaya untuk membungkam suara-suara kritis masyarakat, khususnya pembela HAM,” ujar Dimas.

Pernah Mengalami Teror Sebelumnya

Serangan yang dialami Andrie Yunus bukan pertama kalinya ia mendapatkan intimidasi. Dimas mengungkapkan bahwa korban sebelumnya pernah mengalami beberapa kali teror setelah terlibat dalam aksi protes terhadap pembahasan revisi Undang-Undang TNI. Aksi yang dikenal sebagai “Aksi Geruduk Fairmont” tersebut berlangsung pada 15 Maret 2025 di Hotel Fairmont, Jakarta, saat berlangsungnya pembahasan revisi UU TNI oleh panitia kerja DPR.

Dalam aksi tersebut, sejumlah aktivis termasuk Andrie Yunus melakukan protes terhadap pembahasan revisi undang-undang yang dianggap berpotensi memperluas peran militer di ranah sipil. Setelah aksi tersebut, Andrie mengaku sempat mengalami berbagai bentuk teror.

Salah satunya terjadi pada dini hari 16 Maret 2025 ketika tiga orang tak dikenal mendatangi kantor KontraS dan mengaku sebagai wartawan. Namun, ketiga orang tersebut tidak menjelaskan berasal dari media mana maupun tujuan kedatangan mereka. Pada waktu yang hampir bersamaan, Andrie juga menerima beberapa panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenal. Ia menduga rangkaian kejadian tersebut merupakan bentuk intimidasi terhadap dirinya dan organisasi yang aktif mengkritisi kebijakan negara.

Aktivis yang Konsisten Menyuarakan HAM

Sebagai aktivis di KontraS, Andrie Yunus dikenal aktif dalam berbagai isu HAM, termasuk pengungkapan kasus pelanggaran HAM, reformasi sektor keamanan, hingga penguatan demokrasi di Indonesia. Melalui posisinya di bidang eksternal KontraS, ia sering terlibat dalam advokasi publik, diskusi, serta kegiatan kampanye yang berkaitan dengan perlindungan HAM.

Peristiwa penyiraman air keras yang menimpanya kini menjadi perhatian luas dari berbagai kalangan, terutama komunitas aktivis dan organisasi masyarakat sipil yang menilai kasus tersebut sebagai ancaman terhadap kebebasan bersuara. Sementara itu, aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku serta motif di balik serangan terhadap aktivis HAM tersebut.


Related posts