Kondisi Terkini Perang AS-Israel dengan Iran
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika negara tersebut tidak membuka kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas pelayaran. Jalur sempit ini menjadi jalur penting yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Ancaman ini direspons oleh militer Iran yang mengancam akan menargetkan seluruh infrastruktur energi, teknologi, dan desalinasi milik AS di kawasan tersebut.
Sebagai pengamat intelijen dan keamanan dari Universitas Indonesia (UI), Stanislaus Riyanta memberikan komentarnya terkait situasi ini. Menurutnya, Iran adalah negara yang tidak mudah diancam. Ia menjelaskan bahwa model perang yang dilakukan Iran adalah perang asimetris, bukan hanya perang senjata dengan senjata. Dalam wawancara di acara Kompas Petang di Kompas TV, Senin (23/3/2026), Stanislaus menyampaikan bahwa Iran menggunakan unsur-unsur lain yang dampaknya lebih besar daripada senjata, termasuk memanfaatkan kekuatan Selat Hormuz untuk mengacaukan ekonomi dunia.
Jika Iran bersikukuh dengan sikapnya, Stanislaus meyakini AS tidak akan langsung melakukan serangan seperti ancaman yang digembar-gemborkan oleh Trump. Ia menilai, Amerika akan melakukan serangan sedikit demi sedikit untuk menguji keseriusan Iran. Namun, ia menekankan bahwa Iran adalah negara yang berani, memiliki modal senjata serta ideologi yang kuat.
Sementara itu, AS adalah entitas yang memiliki persenjataan militer kuat. Negeri Paman Sam juga didukung oleh beberapa negara lain. Stanislaus menyatakan bahwa gertakan dari AS sudah dipahami betul oleh Iran sehingga mereka siap menghadapi ancaman tersebut. Ia menegaskan bahwa Iran akan didukung oleh mayoritas masyarakatnya, sehingga hal itu perlu diperhitungkan oleh AS.
Pernyataan IRGC
Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) juga mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat. Dalam pernyataan pada Senin (23/3/2026), IRGC menanggapi klaim terbaru Donald Trump yang menuduh bahwa mereka bermaksud menargetkan pabrik desalinasi regional dan mengganggu layanan bagi penduduk setempat.
Pernyataan IRGC merujuk pada serangan terhadap sebuah sekolah di kota Minab, Iran selatan, pada 28 Februari, saat AS dan Israel memulai serangan terbaru terhadap Iran. Dalam pernyataan tersebut, IRGC menegaskan bahwa tentara Amerika yang agresif dan tidak manusiawi-lah yang memulai perang ini dengan membunuh anak-anak, termasuk 180 siswa sekolah dasar, serta menargetkan lima lokasi infrastruktur air, termasuk pabrik desalinasi di Pulau Qeshm.
“Pertama, tentara Amerika yang agresif dan tidak manusiawi-lah yang memulai perang ini dengan membunuh anak-anak, termasuk 180 siswa sekolah dasar, serta menargetkan lima lokasi infrastruktur air, termasuk pabrik desalinasi di Pulau Qeshm,” bunyi pernyataan tersebut.
IRGC juga menyebutkan sejumlah serangan lain yang diklaim dilakukan pihak lawan, yang disebut tidak dibalas oleh IRGC. “Anda menyerang rumah sakit kami. Kami tidak membalas. Anda menyerang pusat bantuan kami. Kami tidak membalas. Anda menyerang sekolah kami. Kami tidak membalas.”
Pernyataan tersebut kemudian menanggapi ancaman Trump untuk menargetkan fasilitas listrik Iran, serta menjanjikan pembalasan setimpal. “Namun, jika Anda menyerang rantai pasokan listrik kami, kami akan menyerang rantai pasokan listrik Anda.” IRGC juga menyatakan bahwa pembalasan Iran akan menargetkan pembangkit listrik yang melayani pangkalan AS, serta lokasi ekonomi, industri, dan energi yang terkait dengan kepentingan Amerika.
Efek Jera yang Seimbang
Pernyataan IRGC diakhiri dengan penegasan kemampuan militer Iran. “Kami bertekad untuk menanggapi setiap ancaman secara setara untuk menciptakan efek jera yang seimbang, dan kami akan melaksanakannya.” Mereka juga menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak mengetahui kemampuan mereka; mereka akan menyaksikannya di medan perang.
Sejauh ini, IRGC mengklaim telah menyerang sejumlah target strategis Amerika dan Israel di kawasan sebagai bagian dari Operasi True Promise 4.






