Di Jumat Agung, eksplorasi kisah unik Katedral Jakarta: karya arsitek Belanda tahan gempa

Di Jumat Agung, eksplorasi kisah unik Katedral Jakarta: karya arsitek Belanda tahan gempa

Sejarah dan Keunikan Gereja Katedral Jakarta

Gereja Katedral Jakarta selalu menjadi pusat perhatian bagi umat Katolik, terutama saat momen Jumat Agung. Tidak hanya sebagai tempat ibadah, gereja ini juga menjadi simbol keberadaan umat Katolik di Indonesia. Di balik kemegahannya, tersimpan kisah menarik tentang arsitek sekaligus rohaniwan yang merancang bangunan bersejarah ini.

Humas Keuskupan Agung Jakarta, Susyana Suwadie, menjelaskan bahwa arsitek Gereja Katedral Jakarta adalah seorang romo asal Belanda yang telah lama berkarya di Indonesia. Ia memahami kondisi geografis Jakarta dengan baik dan mengambil inspirasi dari tren arsitektur saat itu.

Terinspirasi Gaya Neogotik

Pembangunan ulang gereja dilakukan setelah atap bangunan katedral pertama roboh pada tahun 1890. Dalam situasi mendesak, sang arsitek menyusun desain baru yang mempertimbangkan tren arsitektur masa itu. Pada masa tersebut, gaya neogotik sedang populer. Gaya ini terinspirasi dari gereja-gereja besar di Eropa, termasuk Notre Dame di Paris.

“Banyak elemen desain yang mirip dengan gereja-gereja besar di Eropa,” ujar Susyana. Ciri khas gaya neogotik terlihat dari berbagai elemen dalam gereja, seperti kaca patri yang didatangkan langsung dari Belanda. Meski demikian, desainnya dibuat cukup sederhana dengan motif bunga, yang diduga menyesuaikan keterbatasan biaya saat pembangunan.

Selain itu, struktur kolom yang menjulang tinggi hingga sekitar 17 meter juga menjadi ciri khas arsitektur neogotik. “Ketinggian ini memiliki makna filosofis, yakni untuk menghadirkan kedekatan antara manusia dengan Tuhan secara vertikal,” tuturnya.

Berbagai elemen lain seperti lengkungan, ujung lancip, hingga bentuk langit-langit yang menyerupai siung bawang semakin memperkuat karakter neogotik pada bangunan ini.

Desain Tahan Gempa

Namun, tidak sekadar mengikuti tren, sang arsitek juga menyesuaikan desain dengan kondisi Jakarta yang rawan gempa. Salah satu inovasi penting terlihat pada bagian interior, khususnya langit-langit gereja. Jika di Eropa langit-langit gereja umumnya menggunakan batu dengan struktur kaku, Katedral Jakarta justru menggunakan potongan kayu solid dari kayu jati asli Indonesia.

Material ini dipilih karena sifatnya yang lebih fleksibel. “Itu sangat membantu banget supaya gereja ini bertahan lama. Jadi, kalau ada bahaya gempa yang terjadi cukup besar itu tidak membuat gereja ini jadi rapuh,” kata dia.

Selain itu, tiga menara katedral yang tampak seperti terbuat dari batu alam ternyata dibangun menggunakan batu bata berukuran besar, bahkan hampir dua kali ukuran bata modern. Struktur ini kemudian diperkuat dengan rangka logam atau baja. Penggunaan kombinasi batu bata dan baja ini membuat bangunan tidak sepenuhnya kaku, sehingga lebih tahan terhadap guncangan.

“Penguatannya ada pada kerangka baja, jadi membantu bangunan tetap kokoh tanpa menjadi terlalu rigid,” tambah Susyana.




Related posts