Imbal hasil obligasi naik, ini dampaknya pada investasi DPLK

Imbal hasil obligasi naik, ini dampaknya pada investasi DPLK



Jakarta – Imbal hasil atau yield obligasi mengalami kenaikan, yang salah satunya disebabkan oleh sentimen perang Timur Tengah dan penurunan outlook Indonesia. Asosiasi Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) melihat kenaikan yield obligasi saat ini sebagai situasi yang bersifat dua arah bagi industri DPLK.

Ketua Umum Asosiasi DPLK Tondy Suradiredja menyampaikan bahwa yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun bergerak naik ke kisaran 6,60% per awal Maret 2026, seiring dengan perubahan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif oleh Moody’s. Hal ini membuat portofolio yang ada tertekan secara mark to market.

Namun, Tondy beranggapan bahwa kenaikan yield sebesar 20–30 basis poin (bps) terkendala oleh kupon yang lebih kompetitif pada penempatan baru. “Dengan demikian, kami melihat kondisi tersebut sebagai momen untuk memperkuat posisi di SBN jangka menengah hingga panjang,” ujarnya.

Lebih lanjut, Tondy menyampaikan bahwa total hasil investasi industri DPLK pada 2025 mencapai Rp 11 triliun di seluruh instrumen, dengan rata-rata imbal hasil aktual (net) sebesar 6,7%. Ia menjelaskan bahwa instrumen obligasi, khususnya SBN, menjadi penopang utama karena porsinya yang dominan dalam portofolio industri.

Untuk tahun 2026, Asosiasi DPLK memperkirakan rata-rata imbal hasil aktual (net) berada di kisaran 6,5% hingga 6,8%, dengan pendapatan kupon SBN dan obligasi korporasi sebagai andalan. “Adapun ruang untuk capital gain terbuka jika yield terkoreksi, seiring meredanya tekanan geopolitik,” tambahnya.

Dalam hal strategi investasi tahun ini, Tondy mendorong penyelenggara DPLK untuk mengurangi dominasi deposito yang rata-ratanya mencapai 50,86% pada 2025. Diversifikasi lebih luas ke SBN, obligasi korporasi, dan saham diperlukan karena pemilihan instrumen di DPLK harus menyesuaikan keinginan peserta. Oleh karena itu, peningkatan literasi menjadi kunci agar peserta dapat memilih instrumen yang lebih optimal.

Dalam jangka pendek, Tondy menyebut bahwa penyelenggara DPLK cenderung menjaga portofolio yang konservatif sebagai respons terhadap gejolak geopolitik dan penurunan outlook Indonesia. Lebih jauh, ia menegaskan bahwa asosiasi mendorong penerapan konsep life cycle fund yang lebih panjang. Konsep ini memandu alokasi instrumen sejak peserta masuk, dimulai dari instrumen agresif untuk memaksimalkan pertumbuhan, lalu secara bertahap bergeser ke instrumen konservatif seiring mendekati masa pensiun.

Strategi Investasi untuk Tahun Ini

Berikut beberapa strategi yang direkomendasikan oleh Tondy:

  • Mengurangi dominasi deposito

    Deposit otonom memiliki peran penting, tetapi pengurangan proporsi mereka diperlukan untuk diversifikasi portofolio. Penyelenggara DPLK diminta untuk mengalokasikan dana ke instrumen lain seperti SBN, obligasi korporasi, dan saham.

  • Peningkatan literasi peserta

    Peserta harus memiliki pemahaman yang cukup tentang berbagai instrumen investasi agar dapat memilih yang paling sesuai dengan kebutuhan dan risiko yang bisa diterima.

  • Penerapan life cycle fund

    Konsep ini mengatur alokasi dana berdasarkan tahap hidup peserta. Awalnya, alokasi fokus pada instrumen agresif, lalu secara bertahap beralih ke instrumen konservatif seiring dengan usia peserta.

Perkiraan Rata-Rata Imbal Hasil

Asosiasi DPLK memprediksi bahwa rata-rata imbal hasil aktual (net) pada tahun 2026 akan berada di kisaran 6,5% hingga 6,8%. Pendapatan kupon dari SBN dan obligasi korporasi akan menjadi sumber utama pendapatan. Selain itu, adanya ruang untuk capital gain juga terbuka jika yield mengalami penurunan, terutama jika tekanan geopolitik mulai mereda.

Kesiapan Menghadapi Perubahan

Tondy menekankan bahwa kesiapan dalam menghadapi perubahan pasar sangat penting. Kenaikan yield obligasi tidak hanya memengaruhi portofolio, tetapi juga memengaruhi strategi investasi jangka panjang. Oleh karena itu, penyelenggara DPLK perlu terus memantau perkembangan ekonomi dan politik, serta melakukan penyesuaian yang diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara risiko dan imbal hasil.

Related posts