Jakarta Kembali Berdenyut Setelah Lebaran
Setelah liburan Lebaran yang panjang, Jakarta kembali bergerak. Jalanan dan angkutan umum yang sempat sepi kini mulai ramai kembali. Pada Senin (30/3), pukul 07.00 WIB, kepadatan terasa di Halte Transjakarta Petukangan D’Masiv, Jakarta Selatan. Masyarakat mulai berdesakan untuk menyelesaikan perjalanan mereka.
Bergeser ke Universitas Budi Luhur, arus kendaraan mengalir padat. Mobil pribadi, bus, hingga sepeda motor saling mengisi ruang yang semakin sempit. Bunyi klakson dan peluit petugas pengatur lalu lintas bersahutan, mencerminkan kehidupan Jakarta yang sibuk dan tak pernah diam. Ojek online juga aktif mengantar dan menjemput penumpang.
Perantau Kembali ke Rutinitas
Yogi Dermawan (30), seorang pekerja swasta di kawasan SCBD, mengaku setelah seminggu mudik ke Tegal, ia kembali ke rutinitasnya. Ia merasa kaget karena liburan terlalu lama, tetapi lebih mengalami kehektikan daripada rasa tidak nyaman.
Selama sepuluh tahun tinggal di Jakarta, Yogi sudah akrab dengan ritme kota ini. Namun, setiap selesai Lebaran, selalu ada rasa enggan yang harus dipaksa luruh. Harapan Yogi adalah agar pekerjaan makin baik dan jumlah lowongan kerja makin banyak.
Baginya, Jakarta tetap menjadi tempat untuk kembali. Meskipun keras, kota ini menyediakan peluang yang tidak selalu ditemukan di kampung halaman. Menurutnya, lebih enak tinggal di Jakarta karena banyak orang dari daerah seperti Tegal juga tinggal di sini. Keramaian hanya terjadi saat Lebaran saja.
Tak Mudik, Tapi Tetap Merayakan
Di sisi seberang halte, Ara (27) berdiri dengan hijab hitam dan tas ransel. Ia tidak mudik tahun ini bukan karena tidak sempat, tetapi karena tidak memiliki kampung halaman untuk pulang. Lebaran ia habiskan dengan berkeliling dan mengunjungi keluarga di Jakarta.
Sebagai pramusaji di kawasan Blok M, Ara berharap hari pertama kerja tidak terlalu berat. Ia merasa vibes masih berasa libur, jadi harapan adalah pekerjaannya tidak terlalu padat. Ia memberi pesan kepada para perantau agar tidak patah arang dalam mencari pekerjaan. Menurutnya, banyak peluang kerja di Jakarta jika mau berusaha.
Nasi Bakar yang Tak Pernah Libur
Di sudut lain, sedikit menjauh dari hiruk pikuk halte, seorang pria paruh baya duduk di samping motornya. Di atasnya, terangkut dagangan nasi bakar yang masih hangat. Ia adalah Hari (53), perantau yang telah puluhan tahun hidup di Jakarta.
Hari sudah tinggal di Jakarta sejak tahun 1991. Kota ini menjadi rumah sekaligus ladang perjuangannya. Ia pernah menjadi cleaning service, kolektor, hingga pekerja konstruksi sebelum akhirnya memilih berjualan nasi bakar hampir satu dekade terakhir.
Pagi itu, seperti hari-hari sebelumnya, dagangannya tetap diminati. Beberapa bungkus nasi bakar seharga Rp10.000 tersisa di motornya, menandakan bahwa roda kehidupan masih terus berputar.
Hari tidak mudik selama empat tahun terakhir. Bukan karena tidak rindu, tetapi karena tanggung jawab yang tidak bisa ditinggalkan. Anak-anaknya tidak libur, jadi meninggalkan anak tidak enak baginya.
Baginya, Jakarta bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi juga tempat menambatkan kehidupan. Ia memahami betul kerasnya kota ini dan mengingatkan para perantau baru. Jika tidak punya keahlian, jangan ke Jakarta. Tapi jika punya keahlian, di sini monggo. Yang penting ulet.
Jakarta yang Tak Pernah Berhenti
Pagi itu, di antara langkah-langkah tergesa dan kendaraan yang tak pernah berhenti, Jakarta kembali menampakkan wajah aslinya. Kota yang memaksa setiap orang untuk bergerak, bertahan, dan terus melangkah.
Liburan telah usai. Kenangan tinggal disimpan. Dan di halte kecil di selatan kota, realita kembali dimulai.






