Mengapa Manusia Tidak Memiliki Ekor?
Pertanyaan sederhana ini sering muncul di benak anak-anak: mengapa manusia tidak memiliki ekor? Meskipun ekor sangat berguna bagi banyak hewan, seperti menjaga keseimbangan, berkomunikasi, atau bahkan menjadi alat pengalih perhatian dari predator, garis keturunan manusia memilih untuk kehilangannya. Namun, secara teknis, manusia memang memiliki bentuk ekor pada tahap awal perkembangan janin.
Selama minggu ke-5 hingga ke-6 kehidupan dalam rahim, embrio manusia memiliki ekor dengan 10-12 vertebra. Pada usia 8 minggu, ekor tersebut menghilang. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ekornya tidak terlihat, manusia masih memiliki jejak evolusioner dari masa lalu yang kaya akan fitur fisik yang berbeda.
Ekor Hilang Sebelum Berjalan Tegak
Nenek moyang manusia terakhir yang memiliki ekor adalah sekitar 25 juta tahun lalu, sebelum kera besar berpisah dari monyet Dunia Lama. Kelompok monyet mempertahankan anggota tubuh kelima ini, sementara kita—bersama kera besar lainnya seperti gorila, simpanse, orangutan, dan bonobo—tidak lagi memiliki ekor.
Beberapa ahli mengaitkan hilangnya ekor dengan kemampuan manusia untuk berjalan tegak (bipedalisme). Alasannya, ekor dapat mengganggu makhluk yang berjalan dengan dua kaki dan berspesialisasi dalam berburu jarak jauh. Namun, pendapat ini ternyata terbalik. Menurut Liza Shapiro, profesor antropologi biologi di University of Texas at Austin, “Ekor hilang lebih dulu.”
Shapiro menegaskan bahwa evolusi tidak bekerja secara terbalik. Ia menyatakan bahwa hilangnya ekor tidak secara langsung membantu kita memahami evolusi bipedalisme manusia.
Sinyal ‘Petir’ dari DNA ‘Sampah’
Jika pertanyaan “mengapa” ekor hilang sulit dijawab, maka pertanyaan yang lebih realistis adalah: “bagaimana” hal itu terjadi? Pertanyaan ini mendorong Bo Xia, mahasiswa pascasarjana di NYU Grossman School of Medicine, untuk menyelidiki secara genetik setelah ia mengalami cedera tulang ekor pada tahun 2019.
Kunci teka-teki ini ternyata bukan pada apa yang tidak kita miliki, melainkan pada apa yang dimiliki oleh hewan lain. Gen Hox, yang mengatur pembentukan tulang belakang, juga berperan dalam pembentukan ekor pada hewan lain. Xia dan rekan-rekannya membandingkan DNA enam spesies kera tak berekor dengan sembilan spesies monyet berekor dan menemukan sesuatu yang mengejutkan.
“Itu seperti sambaran petir,” kata Jef Boeke, direktur Institute for Systems Genetics di NYU Langone Health. Mereka menemukan bahwa DNA non-coding urutan genetik yang 100 persen dilestarikan di semua kera dan 100 persen tidak ada di semua monyet.
Gen yang Bertanggung Jawab atas Hilangnya Ekor
Gen yang bertanggung jawab atas hilangnya ekor ternyata adalah potongan pendek DNA yang dikenal sebagai elemen Alu. Elemen Alu termasuk dalam kelas gen “melompat” (jumping genes) yang dapat bergerak di genom dan memicu mutasi. Pada suatu titik di masa lalu, satu elemen Alu menemukan jalannya ke dalam gen pengatur panjang ekor yang disebut gen TBXT—dan di sana, ia mulai berulah.
“Ketika elemen Alu hadir, Anda kehilangan ekor dalam satu gerakan,” kata Itai Yanai, profesor di NYU Langone Health’s Department of Biochemistry and Molecular Pharmacology. Tim tersebut membuktikannya dengan menyisipkan elemen Alu ke dalam gen ekor tikus, dan hasilnya: ekornya hilang.
Mutasi dan Hasil Evolusi
Penemuan ini menunjukkan bahwa perubahan besar pada primata ini terjadi sekaligus, bukan perlahan. “Ini adalah contoh yang sangat bagus tentang bagaimana keanehan evolusioner yang aneh dapat memiliki konsekuensi yang menarik dan penting,” kata David Kimelman, ahli genetika di University of Washington.
Namun, perubahan itu datang dengan biaya. Tim Xia memperhatikan bahwa tikus yang disisipkan dengan elemen Alu tidak hanya kehilangan ekor, tetapi juga memiliki risiko lebih tinggi mengembangkan cacat sumsum tulang belakang yang serupa dengan spina bifida—masalah bawaan seumur hidup yang memengaruhi sekitar satu dari 1.000 bayi manusia.
Meskipun harus membayar mahal, manusia tetap mempertahankan mutasi tersebut. “Pasti ada tekanan evolusioner yang begitu besar untuk kehilangan ekor,” kata Yanai. Meskipun mekanisme genetiknya telah ditemukan (mutasi gen Alu), pertanyaan mengapa kita mempertahankan mutasi tersebut tetap menjadi teka-teki.
Apakah itu benar-benar sangat membantu, ataukah kerugiannya tidak cukup besar untuk memusnahkan kita? Sayangnya, ekor kita kemungkinan tidak akan kembali. “Masuk akal untuk berpikir bahwa selama waktu itu (25 juta tahun), ada lebih banyak mutasi yang berkaitan dengan stabilisasi hilangnya ekor. Itu berarti bahwa, bahkan jika kita dapat membatalkan mutasi Alu, ‘itu tetap tidak akan mengembalikan ekor’,” tutup Yanai.






