img
asatunews
SEKILAS JAKARTA
  • Presiden AS Barack Obama memesan Nasi Goreng di restoran Bali langsung dari Amerika
  • Menurut United Stated Trade Representatives, 25% obat yang beredar di Indonesia adalah palsu.
  • Menurut peneliti di Detroit, orang yang selalu tersenyum lebar cenderung hidup lebih lama.
  • WHO merilis, 30 persen anak-anak di dunia kecanduan menonton televisi dan bermain komputer.
  • Anak yang mengalami gangguan tidur, cenderung memakai obat2an dan alkohol berlebih saat dewasa.
Selasa, 25 Februari 2014 - 01:14:51 WIB

Wakapolri harus bebas dari kepentingan politik

Penulis : rizal
Kategori: Polkum - Dibaca: 1143 kali

Liputan Jakarta.com - Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri) Komjen Oegroseno pada bulan Februari 2014 ini telah memasuki masa pensiun. sejumlah nama disebut bisa menjadi Wakapolri pengganti Komjen Oegroseno, antara lain Komjen Badrodin Haiti, Komjen Anton Bahrul Alam, Komjen Anang Iskandar ( Kepala Badan Narkotika Nasional ), Komjen Budi Gunawan, dan Komjen Supardi Parto serta Komjen Suhardi Alius.

Pengamat intelijen Wawan H Purwanto mengharapkan posisi wakapolri akan diisi tokoh yang integritas dan netralitasnya tidak diragukan. Serta jauh dari kepentingan partai politik menjelang pemilu 2014.

Sekali seorang Wakapolri condong ke partai, maka akan mengarahkan pada pengamanan partai tersebut. Keberpihakan Polri adalah kepada negara, loyalitas juga kepada negara. Sikap partisan akan mempersempit daya nalar, dan cederung berpihak dan akhirnya tidak obyektif lagi dalam menangani kasus," kata Wawan yang juga pernah menjabat sebagai Staf Ahli Wapres bidang Keamanan dan Kewilayahan ini. di Jakarta, pada minggu (23/2).

calon wakapolri harus berdiri di semua pihak. Namun yang terpenting menjauhkan posisi wakapolri dari kepentingan partai.tambahnya lagi

Menurut dia, jabatan wakapolri menjadi strategis untuk ikut menentukan sistem keamanan dalam negeri menyongsong tahun politik. Sosok bintang tiga menjadi prioritas agar pemilihannya tak menghilangkan soal senioritas dan profesionalisme. Serta tour of duty dan tour of area yang memadai.

penggodogan calon sudah harus memperhatikan pula suara masyarakat. "Integritas dan netralitas perlu digarisbawahi jika ingin menjadikan negeri ini sebuah negeri yang bermartabat. Kepentingan politik yang terlalu menonjol justru bisa merusak tatanan ideal yang kita cita-citakan selama ini," tuturnya.

Dijelaskan, pengalaman mengatasi berbagai persoalan berat akan mematangkan profesionalisme kinerja seorang Wakapolri. Hal itu, kata Wawan, bukan perkara mudah, sebab posisi Wakapolri rentan terhadap intrik-intrik politik dari luar yang ingin kepentingannya diamankan.

Menurut Wawan, sungguh berbahaya jika ada tekanan internal dan eksternal yang membuat pilihan jatuh berdasarkan kepada subyektivitas dan kepentingan sesaat, apalagi ada unsur kedekatan semata.

Wawan menilai semua calon memiliki kans untuk terpilih, namun tentu ada penilaian dan pertimbangan tertentu sesuai dengan dinamika perubahan masyarakat yang membutuhkan sosok yang pas di era demokrasi dalam mengatasi persoalan yang berat mulai awal tahun 2014 hingga terpilihnya presiden mendatang.


BERITA TERKAIT