img
asatunews
SEKILAS JAKARTA
  • Presiden AS Barack Obama memesan Nasi Goreng di restoran Bali langsung dari Amerika
  • Menurut United Stated Trade Representatives, 25% obat yang beredar di Indonesia adalah palsu.
  • Menurut peneliti di Detroit, orang yang selalu tersenyum lebar cenderung hidup lebih lama.
  • WHO merilis, 30 persen anak-anak di dunia kecanduan menonton televisi dan bermain komputer.
  • Anak yang mengalami gangguan tidur, cenderung memakai obat2an dan alkohol berlebih saat dewasa.
Jumat, 17 Januari 2014 - 13:44:06 WIB

BMKG Hujan Lebat masih akan guyur wilayah Indonesia

Penulis : rizal
Kategori: Nasional - Dibaca: 987 kali

Liputan Jakarta - Hujan lebat masih akan mengguyur wilayah-wilayah di Indonesia, hal ini berkaitan dengan aktifnya angin baratan atau Monsun Asia yang sedang berlangsung, demikian disampaikan oleh, Saat ini berlangsung bibit badai tropis kembar di utara dan selatan ekuator yang mengapit wilayah Indonesia. Keduanya ada di perairan timur Filipina dan di sebelah utara Darwin, Australia, dengan tekanan hampir seimbang antara 1.005 milibar dan 995 milibar. Hal ini bisa memperpendek musim hujan.

 

”Posisi matahari masih ada di selatan ekuator. Hal ini membuat Australia memasuki musim panas. Namun, di utara ekuator, meski musim dingin, terdapat kondisi tekanan rendah akibat temperatur tinggi di sebelah timur Filipina,” kata Kepala Pusat Informasi Meteorologi Publik pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Mulyono R Prabowo, Kamis (16/1/2014), di Jakarta.

 

Dalam keadaan normal atau rata-rata setiap tahun, kondisi tekanan rendah yang menimbulkan bibit badai tropis di sebelah timur Filipina terjadi antara April hingga November. Saat ini BMKG terus memantau perkembangan tekanan rendah di utara Sulawesi tersebut.

 

”Jika tekanan rendah di utara ekuator terus berkembang, akan mengurangi aliran angin dari Asia (utara) melintasi Indonesia menuju Australia (selatan),” kata Mulyono.

 

Tekanan rendah di utara dan selatan jika seimbang akan memperpendek musim hujan tahun ini. Saat ini aliran angin masih didominasi yang menuju Australia karena tekanan rendah di wilayah itu jauh lebih besar.

 

Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara BMKG Edvin Aldrian mengkhawatirkan anomali tekanan rendah di utara ekuator itu menimbulkan fenomena El Nino pada musim kemarau 2014. El Nino menyebabkan musim kemarau berkepanjangan, berdampak pada banyaknya kebakaran lahan, hutan, dan rawa gambut yang mengering.


BERITA TERKAIT