img
asatunews
SEKILAS JAKARTA
  • Presiden AS Barack Obama memesan Nasi Goreng di restoran Bali langsung dari Amerika
  • Menurut United Stated Trade Representatives, 25% obat yang beredar di Indonesia adalah palsu.
  • Menurut peneliti di Detroit, orang yang selalu tersenyum lebar cenderung hidup lebih lama.
  • WHO merilis, 30 persen anak-anak di dunia kecanduan menonton televisi dan bermain komputer.
  • Anak yang mengalami gangguan tidur, cenderung memakai obat2an dan alkohol berlebih saat dewasa.
Minggu, 21 Juli 2013 - 11:34:45 WIB

Galeri Batik Jawa, angkat tradisi Batik kuno jadi kekinian

Penulis : rizal
Kategori: Liputan Khusus - Dibaca: 2124 kali

Liputan Jakarta.Com - Perjalanan panjang Galeri Batik Jawa mengembangkan batik Indigo, telah menunjukan, betapa ragam hias batik tradisi dari iklim tropis, dengan pengolahan warna ini, diselaraskan dalam gaya iklim empat musim, Pengembangan ini menjadi andalan koleksi terkini Galeri Batik Jawa.

Sejak tahun 2007, setelah riset mendalam mulai tahun 1990an, Galeri Batik Jawa memutusukan spesialisasi dalam menghidupkan kembali kearifan lokal Jawa yang sudah berabad-abad menggunakan pewarna alam ramah lingkungan.

Mayasari Sekarlaranti atau Nita Kenzo pemilik Galeri Batik Jawa mengatakan saat LiputanJakarta, menyambangi stand Galeri Batik Jawa, di acara Gelar Batik Nusantara di JCC Jakarta, Sabtu (20/7/13) “Batik yang ada di Galeri Batik Jawa yang dibuat atau dibatik oleh ibu-ibu yang ada dipulau jawa sebagian besar dari pembatik-pembatik diJogyakarta namun juga ada yang dari Jawa tengah, jawa timur, mereka kami kumpulkan untuk kembali berkarya”

“kelebihan batik kami dengan batik lain yang sejenis adalah, bahan-bahan yang kami gunakan menggunakan bahan-bahan alami terutama kami ambil dari tumbuhan indigofera tinctoria atau Nila, masih ingat peribahasa “karena Nila setitik rusak susu sebelanga?” ujar nita, itu karena Nila memberikan warna biru yang kuat. menjadi warna primer dari batik-batik jaman dulu sebelum ada batik ada batik-batik lain. Jadi kami mengangkat tradisi yang ada dipulau Jawa. Kemudian melestarikan kembali dan mengembangkan terutama dari warna alam yang berasal dari Indigofera atau Nila, namun sekarang kami aplikasikan dalam kekinian, batik-batik tidak terlihat kuno tapi bisa digunakan sehari-hari, bisa juga untuk kegiatan formal, maupun pesta juga.” Tutur Nita

 

Design prinsipal saya sendiri dibantu oleh Gut Puspo, beliau adalah seorang patron maker yang sudah 30 tahun menghilang dari Indonesia berada di Australia. Beliau sejak dulu memang mengembangkan busana batik untuk luar negeri, beliau juga punya visi yang sama dengan saya, tidak membuat batik dengan neko-neko, dan tidak rumit, sesimpel mungkin, supaya enak dipakai dan enak dipandang, namun batiknya sendiri tidak hilang dalam guntingan polanya, jadi dari awal kami sudah memikirkan gaya sampai pola batik itu sendiri, jangan sampai terpotong-potong” jelas Nita Kenzo

 Gelar Batik Nusantara 2013 dibuka oleh SBY, dihadiri oleh gubernur DKI Jakarta Jokowi dan sejumlah menteri kabinet Indonesia bersatu pada tanggal (17/7/13) yang lalu, gelaran batik nusantara ini di adakan setiap 2 tahun sekali.

 

 

 

  


BERITA TERKAIT