img
asatunews
SEKILAS JAKARTA
  • Presiden AS Barack Obama memesan Nasi Goreng di restoran Bali langsung dari Amerika
  • Menurut United Stated Trade Representatives, 25% obat yang beredar di Indonesia adalah palsu.
  • Menurut peneliti di Detroit, orang yang selalu tersenyum lebar cenderung hidup lebih lama.
  • WHO merilis, 30 persen anak-anak di dunia kecanduan menonton televisi dan bermain komputer.
  • Anak yang mengalami gangguan tidur, cenderung memakai obat2an dan alkohol berlebih saat dewasa.
Kamis, 20 Juni 2013 - 22:45:27 WIB

Dr. Yudi Latif :Pancasila masih relevan diEra Globalisasi

Penulis : rizal
Kategori: Liputan Jakarta - Dibaca: 1125 kali

Jakarta - Relevansi Pancasila diEra Golbalisasi dibutuhkan untuk mengakomodir keberagaman Budaya, Agama, Golongan-Golongan, Etnis dan Gender. Pesan itu yang ingin disampaikan oleh Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas) melalui acara bulanan Coffie Morning dengan para pejabat dilingkungan Lemhanas, dan para pimpinan media, yang diselenggarakan rutin tiap bulan.

Nara sumber kali ini (19/6/2013) adalah Dr. Yudi Latif wakil rektor Universitas Paramadina Jakarta. Pada kesempatan kali ini tema yang diangkat adalah “Pancasila dari Masa ke Masa”.

Dr Yudi Latif, mengatakan, dalam 15 tahun perjalanan reformasi, gaung Pancasila seolah-olah redup, itu adalah sebuah konsekuensi dari sebuah warisan terdahulu yang refresif, seolah-olah warisan masa lalu tidak ada baiknya, tidak memandang masa lalu dari sisi-sisi yang positif.

Akibatnya Pancasila menjadi bagian masa lalu yang kelam, kemudian Pancasila dihilangkan dari kurikulum, bahkan pejabat negara saat ini, agak ragu-ragu untuk menyebut Pancasila dalam pidato-pidato publik mereka. Ungkap Yudi Latif.

Padahal Amerika saja yang kita pandang sebagai kiblat politik Dunia, sudah memandang Pancasila sebagai nilai-nilai solidaritas manusia. Lanjut Yudi

Para Founding Father yang tergabung dalam BPUPKI telah merumuskan Pancasila dan Konstitusi, mengakomodir segala keragaman yang sudah hadir pada saat itu. Dari segi Agama, agama lokal yang sudah ada sejak ratusan bahkan ribuan tahun ada, sudah hadir disana, seperti Sunda wiwitan, Kaharingan , Animisme, dinamisme, Hindu, Budha, Kristen, dan Islam, Syiah, bahkan Ahmadiyah sudah ada disana. Yahudi pun sudah ada disana, lanjut Yudi.

Dari segi Etnis, bukan etnis-etnis yang kita sebut pribumi saja, akan tetapi etnis dari jaman batupun sudah ada.  Selain itu etnis Tionghoa, India, Arab, Jepang dan Eropa sudah ada . menjadi anggota BPUPKI yang berjumlah 68 orang.

Dari segala keragaman itulah maka Indonesia disebut sebagai Taman Sari Dunia, dari segala keragaman tersebut, kita harus menciptakan suatu filosofi dasar falsafah Negara ini, berpandangan dunia, menaungi segala keragaman sehingga semua orang merasa at home, ungkap Yudi.  

 

 

 


BERITA TERKAIT