img
asatunews
SEKILAS JAKARTA
  • Presiden AS Barack Obama memesan Nasi Goreng di restoran Bali langsung dari Amerika
  • Menurut United Stated Trade Representatives, 25% obat yang beredar di Indonesia adalah palsu.
  • Menurut peneliti di Detroit, orang yang selalu tersenyum lebar cenderung hidup lebih lama.
  • WHO merilis, 30 persen anak-anak di dunia kecanduan menonton televisi dan bermain komputer.
  • Anak yang mengalami gangguan tidur, cenderung memakai obat2an dan alkohol berlebih saat dewasa.
Senin, 17 Desember 2012 - 15:12:44 WIB

SBY dan Demokrat yang Digerus Skandal Korupsi

Penulis : redaksi
Kategori: Polkum - Dibaca: 3116 kali

Jakarta - Kredibilitas Demokrat sudah sangat tergerus akibat isu korupsi dan faksionalisme internal yang membaluri parpol biru itu. Pasca penyingkiran Ruhut Sitompul dari posisi elite Demokrat, situasi internal parpol itu masih konfliktual dan kelabu. Presiden SBY selaku Ketua Dewan Pembina DPP Partai Demokrat harus berani membersihkan partai dari para kader bermasalah. Maukah dan mampukah?

‘’Isu korupsi sudah menghancurkan citra partai, sementara Partai Demokrat di 2009 salah satunya karena kemampuan mereka menjual isu bersih dari korupsi," kata dosen UIN Jakarta Burhanuddin Muhtadi.

Konsolidasi internal Demokrat juga melemah. Buktinya, Demokrat tetap masih ribut, dan desakan agar sang Ketua Umum Anas Urbaningrum mundur, masih nyaring terdengar. Kali ini, seruan mundur disuarakan oleh Ketua Badan Usaha Penyelamat Partai Demokrat, Henky Luntungan. Henky merupakan salah satu tokoh yang membidani lahirnya Demokrat.

Menurut Henky, Anas sebaiknya mundur karena terlalu banyak melakukan pelanggaran yang membuat citra partai menurun drastis di mata publik. Menurut Henky, selama Partai Demokrat berada di bawah kepemimpinan Anas, cita-cita para pendiri untuk menjadikan Demokrat sebagai rumah besar rakyat Indonesia tidak terwujud. Pelan-pelan, Demokrat justru tenggelam.

Pada 2009, Demokrat memenangi pemilu setelah mengumpulkan 21% suara. Namun dalam sejumlah survei, partai itu kian terbenam. Dukungan untuk Demokrat kini hampir berada di bawah dua digit, jauh di belakang PDIP dan Golkar yang tetap eksis.

Kondisi ini mencabik-cabik Demokrat hingga ke ujung sengkarut. Burhanuddin melihat, konsolidasi internal yang tengah dilakukan Partai Demokrat melalui pencopotan sejumlah pengurus di Dewan Pimpinan Pusat diyakini tak banyak membantu tingkat elektabilitas partai ini di pemilu 2014 mendatang. Elektabilitas Partai Demokrat tetap hancur karena sejumlah politikusnya terjerat persoalan korupsi.

Namun, Burhanuddin yang juga peneliti LSI, menilai konsolidasi dan kinerja pemerintah tetap tak mampu mengembalikan elektabilitas yang hancur karena kasus korupsi politikus Partai Demokrat.

Walhasil, elite Demokrat mungkin bakal berakrobat politik untuk mempertahankan kredibilitas dan perolehan suara dalam pemilu mendatang. Itu pun nampaknya belum tentu bisa menolongnya agar menang.

Dalam kaitan ini, pengamat politik dari Universitas Indonesia, Prof Iberamsjah mengatakan bahwa seharusnya Susilo Bambang Yudhoyono sebagai pendiri dan juga Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat berani mengambil tindakan tegas terhadap Anas. Pasalnya, situasi saat ini tidak hanya berkaitan dengan masa depan Demokrat, tapi juga berkaitan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara serta penegakan demokrasi kita. Bagaimana ini Pak SBY?


BERITA TERKAIT