img
asatunews
SEKILAS JAKARTA
  • Presiden AS Barack Obama memesan Nasi Goreng di restoran Bali langsung dari Amerika
  • Menurut United Stated Trade Representatives, 25% obat yang beredar di Indonesia adalah palsu.
  • Menurut peneliti di Detroit, orang yang selalu tersenyum lebar cenderung hidup lebih lama.
  • WHO merilis, 30 persen anak-anak di dunia kecanduan menonton televisi dan bermain komputer.
  • Anak yang mengalami gangguan tidur, cenderung memakai obat2an dan alkohol berlebih saat dewasa.
Senin, 07 Maret 2016 - 11:16:42 WIB

Perjalanan Musik sang Maestro Ireng Maulana

Penulis : ismi novita
Kategori: Ragam Berita - Dibaca: 503 kali

Maestro musik jazz Ireng Maulana tutup usia. Laki-laki asli Jakarta yang lahir 15 Juni 1944 ini meninggal pada Minggu dinihari, 6 Maret 2016, dalam usia hampir 72 tahun.

Bakat musik Ireng berasal dari kedua orang tuanya. Ayahnya adalah pemain gitar asal Cirebon, sementara ibunya asal Sangir, seorang penyanyi yang pandai bermain piano.

Sejak kecil, pemilik nama asli Eugene Lodewijk Willem Maulana, ini sering dititipkan kepada tetangganya. Oleh tetangganya itu, ia kemudian dipanggil Ireng, dalam bahasa Jawa berarti hitam.

Kesenangannya bermain jazz diturunkan dari pamannya, Tjok Sinsoe, pemain bas era jazz tahun 40-an. Pada usia 16 tahun, Ireng sudah bergumul dengan alat musik, terutama gitar. Ia mulai mengikuti kakaknya, Kiboud Maulana, yang waktu itu sudah menjadi gitaris kondang.

Lalu bergabunglah ia dengan grup musik Joes & His Band dan mengikuti beragam festival. Pada salah satu festival, grup musiknya meraih juara dua dan ia dinobatkan menjadi pemain gitar terbaik.

Baca juga: Maestro Jazz Ireng Maulana Dikabarkan Meninggal

Dari kelompok Joes & His Band, ia bergabung bersama grup musik Gelora Samudra yang bermain di Hotel Des Indes, Jakarta. Lalu pada 1960-an bersama Bing Slamet, Idris Sardi, dan Eddy Tulis, mendirikan Band Eka Sapta. Grup musik ini ditampilkan Mus Mualim, untuk mengisi acara Pojok Jazz TVRI pada 1970-an.

Keinginan memperdalam permainan gitar membuat Ireng bertekad hijrah ke luar negeri selama beberapa tahun. Dia belajar di City Line Guitar Centre Amerika Serikat. Di sana, ia belajar memainkan gitar klasik. Setelah itu pendidikan musiknya berlanjut di Konijnklijk Conservatorium, Den Haag, Belanda.

Ireng mulai mempelajari musik jazz justru dari Mus Mualim. Pada 1964, ia melawat ke New York untuk berpartisipasi mengisi acara New York World Fair.

Pada 1978, dia mendirikan grup Ireng Maulana All Stars dengan delapan personel. Di antaranya, Benny Likumahuwa, Hendra Wijaya, Maryono, Benny Mustapha, Karim Tes, Roni, dan Ireng Maulana.

Dia juga sempat mendirikan Ireng Maulana Associates, sebuah organisasi tempat bergabung para musikus jazz di Jakarta. Ireng merupakan salah satu penggagas pesta musik jazz internasional, Jakarta Jazz Festival. (tempo)

BERITA TERKAIT