img
asatunews
SEKILAS JAKARTA
  • Presiden AS Barack Obama memesan Nasi Goreng di restoran Bali langsung dari Amerika
  • Menurut United Stated Trade Representatives, 25% obat yang beredar di Indonesia adalah palsu.
  • Menurut peneliti di Detroit, orang yang selalu tersenyum lebar cenderung hidup lebih lama.
  • WHO merilis, 30 persen anak-anak di dunia kecanduan menonton televisi dan bermain komputer.
  • Anak yang mengalami gangguan tidur, cenderung memakai obat2an dan alkohol berlebih saat dewasa.
Rabu, 19 November 2014 - 20:10:30 WIB

Benarkah designer Indonesia Plagiat

Penulis : ismi novita
Kategori: Ragam Berita - Dibaca: 869 kali

Pergelaran mode akbar Jakarta Fashion Week (JFW) 2015 baru saja berlalu. Namun, di balik kesuksesan perancang mode dalam negeri unjuk kreativitas mereka, terdapat awan mendung yang memayungi dunia mode Indonesia. 

Sebuah akun Instagram bernama @nyinyirfashion menggunggah foto-foto hasil rancangan desainer Indonesia yang mirip dengan hasil karya desainer luar negeri. Tidak hanya itu, Dwi Sutarjantono, dalam blognya, juga menyoroti kemiripan koleksi desainer dalam negeri yang serupa dengan beberapa rancangan desainer asing. 

Di akun Instagram itu,  tersebut nama Priyo Oktaviano, Barli Asmara, Oscar Lawalata, Mel Ahyar, Denny Wirawan, Sapto Djojokartiko, bahkan Biyan. 

Koleksi terbaru Priyo dalam ajang Dewi Fashion Knight di JFW 2015 merupakan yang paling banyak diunggah @nyinyirfashion. Akun itu membandingkan koleksi Priyo dengan beberapa desainer luar negeri tenar, seperti Prabal Gurung, Alexander McQueen dan rumah mode Balenciaga. 

Sementara koleksi Barli disandingkan dengan karya Givenchy dan Ari Seputra dibandingkan dengan Alexander McQueen.

Lalu, apakah desainer Indonesia memang benar plagiat atau hanya sekedar terinspirasi? 

Desainer sekaligus pengamat mode Musa Widyatmodjo mengatakan dalam industri mode memang belum ada tata tertib yang mengatur soal plagiarisme desain. Namun menurutnya, sah-sah saja jika seorang desainer terinspirasi koleksi desainer lain.

Meskipun begitu, menurut Musa yang lama terlibat di Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI), jika koleksi seorang desainer 70 persen mendekati koleksi desainer lain, maka itu sudah termasuk menjiplak karya. 

"Kalau miripnya sampai 70 persen, saya rasa itu bisa dibilang mencontek. Tapi ada juga kriteria lain yang harus diperhatikan seperti cutting, detail, siluet, motif, tekstur dan warna," paparnya. 

Mengenai beberapa pihak yang menilai negatif karya desainer yang tidak orisinal tersebut, Musa mengatakan itu hal yang wajar. 

"Orang berkomentar itu ya sah-sah saja, apalagi di era sekarang yang serba digital. Orang bisa mengekspresikan pendapat mereka secara bebas di media sosial, tapi juga tidak bisa langsung menggeneralisasi bahwa semua desainer Indonesia plagiat. Itu tidak adil," papar Musa. 

Di sisi lain, Musa menganggap positif adanya kritik tersebut. "Saya rasa ini bisa jadi pembelajaran bagi desainer Indonesia, agar lebih giat lagi mencari inspirasi yang orisinal," katanya. 

Menurut Musa, urusan contek-mencontek merupakan penyakit lama di dunia mode. "Dari zaman dulu sudah ada," ujarnya. 

Tidak hanya etika profesionalisme desainer yang memengaruhi, namun juga media. 

"Tanpa disadari, media juga berperan dalam berkembangnya plagiarisme di industri fashion," tutur Musa. 

Dia menjelaskan, media kerap membandingkan koleksi desainer dalam negeri dengan karya desainer dan rumah mode dari luar negeri. Padahal, secara pengalaman dan jam terbang, desainer Indonesia masih kalah jauh. 

"Kita (desainer) sering dibandingkan dengan desainer luar negeri yang di negaranya, industri modenya sudah punya sistem yang berjalan puluhan atau bahkan ratusan tahun. Itu jadi tekanan tersendiri dan membuat desainer kita lebih cenderung berkiblat pada gaya Barat," papar Musa. 

Imbasnya, gaya desain mereka menjadi mirip. Hal itu juga menjerumuskan perancang muda melakukan jalan pintas agar karya mereka dianggap bagus di dunia mode, salah satunya dengan mencontek. 

Cara mengatasinya, menurut Musa, membutuhkan kerja sama semua pihak, dimulai dari desainer itu sendiri. "Lingkaran para pendukung di sekeliling desainer itu juga berpengaruh, selain kesadaran dari desainer itu sendiri," katanya. 

Tapi, pada akhirnya, Musa mengatakan, penilaian ada di tangan konsumen. "Pada akhirnya, konsumen yang menilai," tutup Musa.(Vivalife)

 


BERITA TERKAIT