img
asatunews
SEKILAS JAKARTA
  • Presiden AS Barack Obama memesan Nasi Goreng di restoran Bali langsung dari Amerika
  • Menurut United Stated Trade Representatives, 25% obat yang beredar di Indonesia adalah palsu.
  • Menurut peneliti di Detroit, orang yang selalu tersenyum lebar cenderung hidup lebih lama.
  • WHO merilis, 30 persen anak-anak di dunia kecanduan menonton televisi dan bermain komputer.
  • Anak yang mengalami gangguan tidur, cenderung memakai obat2an dan alkohol berlebih saat dewasa.
Rabu, 01 Oktober 2014 - 15:50:37 WIB

wow, Hutang Luar negeri Indonesia 3000 Triliun

Penulis : redaksi
Kategori: Ekonomi Bisnis - Dibaca: 852 kali

LiputanJakarta.Com - Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowadodjo, mulai khawatir dengan besarnya utang luar negeri Indonesia. Hal tersebut, karena utang luar negeri swasta dan pemerintah hingga Juli 2014 saja sudah melebihi angka Rp3.000 triliun.

 

Menurut Agus, dalam pengelolaan utang luar negeri, hal yang ditakutkan adalah adanya perbedaan prediksi (miss match) di nilai tukar rupiah, bunga, dan lainnya. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat saat ini memang masih sangat tertekan.

 

"Indonesia ada risiko, meski total utang pemerintah terhadap PDB (produk domestik bruto) sangat rendah. Tetapi, karena dampak krisis global, membuat ekspor menurun dan rasionya terhadap utang meningkat. Kita perlu waspadai ini, agar tidak menimbulkan risiko," kata Agus, di Hotel Ritz Carlton Jakarta, Rabu 1 Oktober 2014.

 

Agus mengatakan, penurunan ekspor belakangan ini membuat penurunan debt to export ratio. Ekspor yang menurun juga menyebabkan defisit transaksi berjalan semakin membesar dan membuat nilai tukar melemah. 

 

Menurutnya, hal ini diwaspadai agar tidak ada miss match nilai tukar dan bunga dalam utang luar negeri.

 

"Defisit transaksi berjalan sudah dari kuartal IV 2011. Sekarang kami upayakan pengendalian. 2014 sedikit lebih baik dari 2013. Defisit transaksi berjalan pada 2014 sebesar 3,2 persen dari PDB. Idealnya, bisa ditekan di bawah 2,5 persen. Dari total transaksi berjalan, ekspor barang dan jasa lebih kecil dari impor," tegasnya.

 

Selain itu, Agus juga menyebut, defisit transaksi berjalan terjadi karena besarnya nilai impor bahan bakar minyak (BBM). "Kita juga perlu menyoroti jumlah transaksi berjalan Indonesia pada neraca services dan pendapatan," tambahnya

sional.


BERITA TERKAIT